Bismillah
Setiap mahkluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Berapapun usia manusia, ujungnya pastilah kematian. Dunia ini adalah alam kemungkinan. Apapun mungkin saja terjadi dengan kehendak Allah. Yang miskin, esok lusa mungkin saja berubah jadi kaya. Yang bodoh saat ini, esok lusa mungkin saja berubah jadi pintar. Kejarlah duniamu sampai ujung manapun, tapi jangan lupakan, bahwa kamu tercipta untuk beribadah. Bermimpilah sekehendakmu, namun jangan lupakan ajal pasti datang menjemputmu.
Cerita kematian, surga dan neraka, janji dan ancaman. Itu semua bukanlah dongeng yang jadi kata-kata pengantar tidur atau cerita yang hanyalah sekedar cerita. Bukan. Itu adalah kenyataan. Apapun yang diberitakan dalam al-Qur'an itu adalah petunjuk hidup yang haq. Benar adanya. Dan mustahil berdusta.
Bagaimanapun kita menulisi lembaran demi lembaran hidup kita, apapun yang telah kita lakukan semua tercatat dalam catatan-catatan amal yang ditulis oleh malaikat di sisi kanan dan kiri kita setiap saat. Saat tulisan ini dibuatpun, malaikat ikut mencatat. Namun sayangnya, kita seringkali lupa. Kita seringkali tidak sadar akan kehadirannya. Kita seringkali tidak sadar akan pengawasan Allah dan pengawalan malaikat. Kita seringkali lupa bahwa waktu kita terus bergerak dalam hitungan mundur. Kita tidak sadar bahwa usia, umur, jatah hidup itu hanyalah pinjaman yang harus dikembalikan. Usia itu modal, yang tidak nampak, seringkali tidak masuk dalam perhitungan manusia, namun pasti berkurang setiap saat.
Usia kanak-kanak, meninggalkan usia balita. Usia remaja meninggalkan usia kanak-kanak. Usia Dewasa meninggalkan usia remaja, dan akhirnya usia tua meninggalkan usia dewasa. Tidak sama fisik yang dimiliki orang berusia 40 tahun dengan fisik di usia 20 tahun. Tubuh manusia menua seiring bertambahnya usia. Kemampuan fisik, kekuatan, dan kualitas organ-organ pun semakin menurun seiring bertambahnya usia.
Di sinilah saatnya kita memerlukan persiapan yang matang untuk menghadapi usia tua. Apa saja yang telah kita lakukan selama ini. Hingga di usia ini. Amal sholeh apa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak pengetahuan kita tentang agama ini. Bagaimana status keimanan kita. Bagaimana hubungan kita dengan Sang Kholiq. Ingatlah kesholehan kita akan menjaga anak keturunan kita. Jika sejak muda kita tidak membangun kesholehan diri, keturunan seperti apa yang akan menjadi penerus kita?. Doa anak sholeh yang akan diijabah untuk orang tuanya. Bukan anak sembarangan, tapi anak yang sholeh. Jika di usia muda kita habiskan waktu untuk lalai dan foya-foya, siapa yang akan menolong kita di usia tua?. Pun jika keturunan itu tidak ditakdirkan ada untuk kita, bagaimana kita menghadapi usia tua dengan modal amal buruk seperti itu?
Saya mengajak diri sendiri untuk "Yuk belajar". Ayo belajar memahami hidup. Sudah saatnya mengisi hari-hari dengan menuntut ilmu agama lebih dalam. Memperbaiki hubungan dengan Allah semakin baik. Mengisi setiap detik yang bergulir dengan dzikir dan amal sholih. Mengais rejeki dengan balutan iman dan qonaah.
Usia 30 adalah setengah dari jatah rata-rata ummat Muhammad. Jika setengah umur ini sudah dilewati, maka harusnya di titik ini kita sudah menjadi pribadi yang kokoh berdiri di atas iman dan amal sholih. Di posisi ini, harusnya kita sudah memiliki keahlian yang membuat kita diperhitungkan di tengah masyarakat, serta jiwa yang stabil dalam tuntunan syariat.
Jika kita masih diberi kesempatan membuka mata di pagi hari, masih sempat melihat indahnya mentari, cepat-cepatlah bertaubat atas dosa dosa diri yang kita ketahui ataupun yang tidak diketahui. Cepatlah memperbaiki amalan yang telah berlalu dengan amalan yang berbobot saat ini untuk mengganti keburukan di masa lalu. Cepat-cepatlah menyelesaikan target hafalan al-qur'an atau mengulang ngulangnya sesering waktu, cepat-cepatlah menyempurnakan sholat, karena siapa yang akan menyempurnakannya jika telah habis waktunya ?.
Saya mendapat pelajaran dari sebuah momen saat ujian beberapa menit lagi akan dimulai. Saat itu dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya, kita mengulang-ngulang, membuka lembaran-lembaran buku pelajaran yang akan diujikan. Harap-harap cemas dengan suara bel yang menunjukkan waktu ujian akan tiba. Apalagi jika ini adalah ujian pertama, di tahun pertama, dan di sekolah ternama, serta di luar negara kita. Namun waktu tetaplah waktu. Dia pasti datang menepati janjinya.
Jika di hadapan meja ujian saja, persiapannya seperti itu, deg-degannya seperti itu, yang padahal saat ujian dimulaipun tidak ada ancaman dan pesakitan. Lantas bagaimana jika waktu yang akan datang itu adalah waktu habisnya umur kita. Saat para malaikat turun dengan membawa kain kafan kita. Yang setelah kematian itu ada nikmat atau adzab?
Bayangkan jika saat sujud di waktu tahajud atau subuhmu adalah waktunya, saat mukamu bertasbih menempel di atas sajadah, malaikat turun dari atasmu berdasarkan titah Tuhannya, bagaimana kesudahannya?
Ya Robb hadiahkan lah kami husnul khotimah. Berkahilah setiap detik dari sisa umur kami.
Setiap mahkluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Berapapun usia manusia, ujungnya pastilah kematian. Dunia ini adalah alam kemungkinan. Apapun mungkin saja terjadi dengan kehendak Allah. Yang miskin, esok lusa mungkin saja berubah jadi kaya. Yang bodoh saat ini, esok lusa mungkin saja berubah jadi pintar. Kejarlah duniamu sampai ujung manapun, tapi jangan lupakan, bahwa kamu tercipta untuk beribadah. Bermimpilah sekehendakmu, namun jangan lupakan ajal pasti datang menjemputmu.
Cerita kematian, surga dan neraka, janji dan ancaman. Itu semua bukanlah dongeng yang jadi kata-kata pengantar tidur atau cerita yang hanyalah sekedar cerita. Bukan. Itu adalah kenyataan. Apapun yang diberitakan dalam al-Qur'an itu adalah petunjuk hidup yang haq. Benar adanya. Dan mustahil berdusta.
Bagaimanapun kita menulisi lembaran demi lembaran hidup kita, apapun yang telah kita lakukan semua tercatat dalam catatan-catatan amal yang ditulis oleh malaikat di sisi kanan dan kiri kita setiap saat. Saat tulisan ini dibuatpun, malaikat ikut mencatat. Namun sayangnya, kita seringkali lupa. Kita seringkali tidak sadar akan kehadirannya. Kita seringkali tidak sadar akan pengawasan Allah dan pengawalan malaikat. Kita seringkali lupa bahwa waktu kita terus bergerak dalam hitungan mundur. Kita tidak sadar bahwa usia, umur, jatah hidup itu hanyalah pinjaman yang harus dikembalikan. Usia itu modal, yang tidak nampak, seringkali tidak masuk dalam perhitungan manusia, namun pasti berkurang setiap saat.
Usia kanak-kanak, meninggalkan usia balita. Usia remaja meninggalkan usia kanak-kanak. Usia Dewasa meninggalkan usia remaja, dan akhirnya usia tua meninggalkan usia dewasa. Tidak sama fisik yang dimiliki orang berusia 40 tahun dengan fisik di usia 20 tahun. Tubuh manusia menua seiring bertambahnya usia. Kemampuan fisik, kekuatan, dan kualitas organ-organ pun semakin menurun seiring bertambahnya usia.
Di sinilah saatnya kita memerlukan persiapan yang matang untuk menghadapi usia tua. Apa saja yang telah kita lakukan selama ini. Hingga di usia ini. Amal sholeh apa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak pengetahuan kita tentang agama ini. Bagaimana status keimanan kita. Bagaimana hubungan kita dengan Sang Kholiq. Ingatlah kesholehan kita akan menjaga anak keturunan kita. Jika sejak muda kita tidak membangun kesholehan diri, keturunan seperti apa yang akan menjadi penerus kita?. Doa anak sholeh yang akan diijabah untuk orang tuanya. Bukan anak sembarangan, tapi anak yang sholeh. Jika di usia muda kita habiskan waktu untuk lalai dan foya-foya, siapa yang akan menolong kita di usia tua?. Pun jika keturunan itu tidak ditakdirkan ada untuk kita, bagaimana kita menghadapi usia tua dengan modal amal buruk seperti itu?
Saya mengajak diri sendiri untuk "Yuk belajar". Ayo belajar memahami hidup. Sudah saatnya mengisi hari-hari dengan menuntut ilmu agama lebih dalam. Memperbaiki hubungan dengan Allah semakin baik. Mengisi setiap detik yang bergulir dengan dzikir dan amal sholih. Mengais rejeki dengan balutan iman dan qonaah.
Usia 30 adalah setengah dari jatah rata-rata ummat Muhammad. Jika setengah umur ini sudah dilewati, maka harusnya di titik ini kita sudah menjadi pribadi yang kokoh berdiri di atas iman dan amal sholih. Di posisi ini, harusnya kita sudah memiliki keahlian yang membuat kita diperhitungkan di tengah masyarakat, serta jiwa yang stabil dalam tuntunan syariat.
Jika kita masih diberi kesempatan membuka mata di pagi hari, masih sempat melihat indahnya mentari, cepat-cepatlah bertaubat atas dosa dosa diri yang kita ketahui ataupun yang tidak diketahui. Cepatlah memperbaiki amalan yang telah berlalu dengan amalan yang berbobot saat ini untuk mengganti keburukan di masa lalu. Cepat-cepatlah menyelesaikan target hafalan al-qur'an atau mengulang ngulangnya sesering waktu, cepat-cepatlah menyempurnakan sholat, karena siapa yang akan menyempurnakannya jika telah habis waktunya ?.
Saya mendapat pelajaran dari sebuah momen saat ujian beberapa menit lagi akan dimulai. Saat itu dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya, kita mengulang-ngulang, membuka lembaran-lembaran buku pelajaran yang akan diujikan. Harap-harap cemas dengan suara bel yang menunjukkan waktu ujian akan tiba. Apalagi jika ini adalah ujian pertama, di tahun pertama, dan di sekolah ternama, serta di luar negara kita. Namun waktu tetaplah waktu. Dia pasti datang menepati janjinya.
Jika di hadapan meja ujian saja, persiapannya seperti itu, deg-degannya seperti itu, yang padahal saat ujian dimulaipun tidak ada ancaman dan pesakitan. Lantas bagaimana jika waktu yang akan datang itu adalah waktu habisnya umur kita. Saat para malaikat turun dengan membawa kain kafan kita. Yang setelah kematian itu ada nikmat atau adzab?
Bayangkan jika saat sujud di waktu tahajud atau subuhmu adalah waktunya, saat mukamu bertasbih menempel di atas sajadah, malaikat turun dari atasmu berdasarkan titah Tuhannya, bagaimana kesudahannya?
Ya Robb hadiahkan lah kami husnul khotimah. Berkahilah setiap detik dari sisa umur kami.
Komentar
Posting Komentar